Sikap Kami: Melawan gerakan anti aswaja dan surat edaran PBNU

Belum lama ini PBNU mengeluarkan surat edaran ke PWNU dan PCNU untuk membendung arus anti aswaja. Surat edaran itu berbunyi: “Akhir-akhir ini semakin marak kegiatan dan gerakan dari sebagian umat Islam di Indonesia yang berusaha menafikan dan menganulir tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang selama ini dipedomani dan diamalkan oleh warga NU (Nahdliyyin).”

Dalam surat edaran itu diimbau, agar dalam menghadapi kelompok anti Aswaja, warga Nahdliyyin tetap mengedepankan ahlaqul karimah (perilaku yang baik) dan mengindahkan tata aturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Nahdliyyin diimbau bekerjasama dengan aparat pemerintahan terutama para penegak hukum dalam menjalankan tugas dan fungsinya guna menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan masing-masing sehingga umat Islam dapat tenang melaksanakan ibadah puasa.

“Kepada para pedagang makanan dan minuman yang berjualan di siang hari karena alas an tertentu diminta untuk menghormati orang yang sedang berpuasa.”

Warga Nahdliyyin juga diimbau mengisi bulan Ramadhan 1429 tahun ini dengan kegiatan ibadah dan mu’amalat sesuai dengan kekentuan yang telah digariskan oleh agama dan diselenggarakan atas nama jam’iyah NU.

“Harap melakukan pengajian dan tadarrus di kantor organisasi, melakukan pembinaan umat melalui masjid-masjid dan majelis ta’lim, menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqoh.”

Surat edaran itu ditandatangani oleh Rais Syuriah PBNU KH Hafidz Utsman, Katib Aam PBNU Prof DR H Nasaruddin Umar, Ketua Umum PBNU DR KH Hasyim Muzadi, dan Wakil Sekjen PBNU Taufiq R Abdullah, di Jakarta, tertanggal 30 Agustus 2008 bertepatan dengan 28 Sya’ban 1429 H.

Selain kepada PWNU dan PCNU, surat edaran itu juga ditujukan kepada semua pengurus PBNU dan pengurus lajnah, lembaga dan badan otonom di barah naungan NU (sumber surat edaran dalam http://www.nu.or.id/page.php).

Kami majlis para masyayikh ingin menyikapi surat edaran ini, dan melihat menarik, karena:

1. Seakan-akan NU merespon atas semakin membesarkan neowahabi di Indonesia dan mengancam NU;

2. PBNU memberi tugas (meski hanya himbauan) agar PWNU dan PCNU di bawah melakukan gerakan nyata membendung gerakan anti aswaja.

3. Surat edaran ini secara substansi tak ada bedanya dengan apa yang di mana-mana oleh Masdar F. Mas’udi dikemukakan bahwa NU perlu kembali ke masjid, karena basis NU di situ dan sudah banyak direbut oleh kalangan PKS, HTI, dan semacamya.

Tetapi, surat edaran itu, menurut majlis para masysyikh:

1. PBNU sendiri, terutama direpresentasikan oleh Hasyim Muzadi, justru membela-bela FPI, dan justru sering mempolitisir NU, seperti di Jawa Timur, dengan mendukung salah satu cagub, sehingga tampak NU dijual ke mana-mana. Belum lagi isu money politics seperti dalam konferwil NU di Jawa Tengah yang membuat marah Mbah Sahal dan Habib Luthfi seperti diberitakan media massa, juga isu money politics yang sudah tampaknya mulai berjalan dalam pemilihan-pemilihan PCNU dan PWNU, seperti digelisahkan kalangan muda NU selama ini. Himbauan dengan surat edaran itu seperti orang disuruh bertempur di lapangan, tetapi para jenderalnya justru enak-enak menjual NU. Tentu saja, ini akan memperparah pembusukan NU, karena di lapangan orang-orang yang berjihad atas nama NU seperti dibodohi: “Teruslah bawa-bawa nama NU untuk berjuang melawan PKS dan HTI,” tetapi struktur NU sering hanya digunakan untuk jualan dalam politik praktis.

2. Siapa yang akan melakukan gerakan itu di bawah, kalau moral orang-orang NU sudah diajari money politics, dan mengeksploitasi NU untuk terlibat dalam politik praktis: orang di bawah sudah paham, kalau yang di atas menjadi kapal keruk, yang di bawah hanya berpikir, minta gerimisannnya,” ruh perjuangan sudah tidak penting.

3. Kalau orang-orang PBNU yang berniat berjuang menghadang anti aswaja, maka terlebih dulu berjuanglah terhadap diri sendiri untuk: tidak menjual-jual NU dalam politik praktis, agar menumbuhkan jiwa kerelawanan di kalangan NU; dan singkirkanlah orang-orang yang hanya bermental kapal keruk dari struktur NU.

4. Kami mendukung gerakan melawan neo-wahabi secara total, tetapi kami menyesal bobot moral struktur NU yang sering digunakan untuk dukung mendukung politik praktis, dan juga mendukung FPI. ***

Majlis para masyayikh, gunung tangkuban perahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: