Taushiyah untuk para pengurus NU di seluruh Indonesia menjelang pemilu 2009

Berkaitan dengan akan digelarnya pemilu 2009, dan tahapannya sudah mulai berjalan dengan pencalegan, ternyata ada saja di daerah-daerah, partai politik yang mencoba menggandeng NU dan tokoh-tokohnya, sehingga tokoh-tokoh NU sibuk mengurusi pencalegan, memenangkan DPD, dan sejenisnya.

Mempertimbangkan bahwa NU berpegang pada khittah NU sebagai kekuatan masyarakat sipil, sebagai gerakan sosial-keagamaan, meskipun tidak jarang elit-elit NU sendiri mengkhinatinya tanpa mau mengundurkan diri, kami majlis para masysyikh memberi taushiyah kepada para pengurus NU seluruh Indonesia berkaitan dengan akan digelarnya pemilu 2009, demi memperjuangkangan nasib Nahdliyin:

1. Pengurus NU dipilih untuk khidmah mengurusi NU dan masyarakat NU, dan dengan demikian tidak diberi mandat untuk menjadi politisi, caleg, DPD dan sejenisnya. Pikiran membesarkan NU lewat politik praktis adalah kebohongan belaka, karena pikiran semacam itu pada dasarnya bila dilaksanakan hanya untuk kepentingan pengurus yang terjun ke politik praktis.

2. Mengurus NU di jalur gerakan sosial kemasyarakatan secara konsisten akan bisa menyelamatkan nasib NU dan masyarakat NU ke depan, karena NU tidak akan terkena stigma-stigma politisi dan permainan para broker politik, dan NU akan bisa menjadi kekuatan masyarakat sipil yang diperhitungkan, dan malah akan dirasakan masyarakat bawah NU. Tengoklah absennya NU dalam merespon kasus korban Lumpur lapindo, yang padahal para korban adalah warga NU. Ini akibat pengurus NU tidak memikirkan masyarakat bawah dan hanya seneng mengeksploitasinya, tanpa mau meberdayakan dan membelanya ketika terkena musibah atau kasus.

3. Pengurus NU yang sudah tidak kuat syahwat politiknya, dan sudah ingin aktif di partai politik atau terjun ke politik praktis, mundurlah dari kepengurusan NU, karena untuk menjadi pemimpin, sejenis plintat-plintut tidak pantas diajarkan kepada masyarakat bawah NU.

4. Kalau terjun ke politik janganlah brkawan dengan para broker politik atau menggunakan sejanis remanisme uang, karena itu bertentangan dengan nilai-nilai pesantren yang harus mengedepankan pengabdian dan amanah.

majlis para masysyikh, akhir agustus 2008, di Alas Roban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: