Sikap Kami:Menyesal, terpilihanya Kembali Figur Politisi di PWNU Jateng

Wahai para Nahdliyin di manapaun, Anda dan kita semua telah mencermati konferwil NU di Jateng, yang dalam pemilihannya harus dipandu oleh KH. Hasyim Muzadi yang dulu dikenal maju sebagai cawapres bersama Megawati, ikut andil dalam menjadikan NU dipolitisasi mendukung calon tertentu di politik praktis. Hasilnya, pemilihan di Konferwil Jateng dimenangkan kembali oleh M. Adnan, figur politisi yang baru saja kalah di Pilcawagub Jateng berdampingan dengan tokoh Golkar Jateng.

Sehari setelah terpilih, Koran Suara Merdeka (17/7/2008) memuat berita penyesalan dari Rais AM PBNU, KH. AM. Sahal Mahfudl, bahwa cabang-cabang tampaknya tidak mendengarkan sarannya agar tidak memilih figur politisi. Bahkan KH. AM. Sahal Mahfudl tidak mau dimasukkan sebagai mustasyar, dan namanya tiba-tiba dicatut. KH. AM Sahal Mahfudl juga meminta dijelaskan soal adanya sinyalemen money politics untuk memenangkan calon ketua PWNU dalam konferwil di Brebes.

Menimbang bahwa menjadi pengurus cabang dan wilayah itu amanah dari warga NU, bukan mewakili dirinya sendiri, bukan mewakili keluarganya, dan bukan hanya mewakili kepentingannya, maka dengan sendirinya cabang seharusnya tahu realitas dan kondisi warga NU. Adanya golput dalam Pilgub Jateng yang besar dan kekalahan calon yang berasal dari PWNU menunjukkan bahwa masyarakat NU di bawah itu muak dengan politisasi NU oleh elit-elitnya; masyarakat NU secara riil, pilihan politiknya itu berbeda-beda, lha kalau ketua PWNU-nya maju sebagai kandidat tanpa mau terjun ke partai politik terlebih dulu maka dia dengan jelas mencederai aneka ragam pilihan politik warga NU; jabatan di NU sebaiknya tidak ditempatkan sebagai tempat magang menjadi politisi dadakan (karena tidak mau terjun ke politik praktis), tetapi seharusnya sebagai tempat mengabdi kepada umat dalam gerakan sosial, keagamaan, ekonomi, dan budaya sebagaimana dimandatkan oleh khittah NU.

Berdasarkan itu, kami majlis para masyayikh bersikap bahwa:

1. Menyesalkan terpilihnya kembali figur politisi dalam jabatan ketua PWNU Jateng (terpilihnya M. Adnan), yang nyata-nyata tidak mau berkhidmah khusyuk dalam PWNU, karena lebih memilih menjadi cawagub.

2. Kami menayadari hak cabang-cabang untuk memilih ketua PWNU, tetapi kami menyesalkan cabang-cabang memilih figur politisi untuk menduduki jabatan ketua tanfidziyah PWNU Jateng, dan karenanya kami mendukung ide agar PWNU tabayaun kepada Rais AM tentang sinyalemen yang diungkap Rais Am PBNU bahwa dalam pemilihan itu ada politik uang. Kami teringat nukilan dari KH. Munasir Ali yang dinasehatkan kepada Mbah Muchit: “Chit! Wong mlebu NU kuwi karepe ndandkno awak,” dan kalau benar seperti sinyalemen Rais Am PBNU sudah adanya politik uang, maka nasehat KH. Munasir Ali justru berbalik: wong mlebu NU kuwi malah gor ngrusak awak/moral.

3. Majlis para masyayikh sebenarnya ingin mendengar kata-kata permintaan maaf kepada warga NU dari ketua PWNU atas pencalonan dirinya kemarin dalam politik praktis yang telah membuat gonjang-ganjing di bawah dan di elit, namun begitu kami menyadari hak setiap orang untuk untuk tetap mau dipilih di tengah cibiran warga NU sekalipun. Sebaliknya, hak warga NU pula untuk menilai tentang kapasitas moral dari mereka yang memimpin organisasi NU, karena masih tergoda dengan bujukan kekuasaan, dan tidak khusyuk lagi dalam menjalankan NU, tidak khusuk lagi memimpin NU dalam koridor khittah NU.

4. Karena ketua PWNU sudah dipilih (tapi kami dengan sangat menyesal karena masih memilih figur politisi), Majlis para masysyikh berharap kepada para ulama di Syuriyah untuk nanting ketua Tanfidziyah agar tidak lagi tergoda untuk maju di pilpres, dan memberikan takhdzir yang keras kepada ketua tanfdziyah atas tidak khusyuknya berkhidmah di jalur khittah NU (lebih memilih politik praktis dalam pilcawagub), apalagi hampir setiap hari di Indonesia ini dipenuhi oleh dunia politik praktis, dan besok tahun 2009 saja akan ada pemiliu. Kalau ini tidak dibentengi, maka setiap hari pula NU harus ngurusi politik praktis untuk meraih jabatan kekuasaan yang sarat money politics. Lalu, kapan NU ngurus warga di bawah? (tengah Juli, majlis para masyayikh, dirumuskan di Gunung Merapi).

1 Comment »

  1. 1
    ruben Says:

    mbak/mas hehehe… wordpressnya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
    http://kumpulblogger.com/signup.php?refid=6719 sekarang wordpress juga bisa bergabung , dulu hanya blogger


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: