Mbah Sahal: Tolak Masuk PWNU, Minta Klarifikasi Money Politics

PATI– Rois Aam PBNU Dr KH MA Sahal Mahfudh secara tegas menolak namanya dicantumkan sebagai Mustasyar dalam susunan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2008-2013.

”Tidak ada manfaatnya keberadaan saya di tempat itu. Saya tidak mau melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Untuk apa nama saya dipasang-pasang, tidak ada artinya,” tegasnya kepada wartawan, Rabu (16/7).

Dia baru mengetahui namanya dimasukkan dalam jajaran Mustasyar PWNU dari koran. ”Sampai hari ini saya belum dihubungi siapa-siapa mengenai pencantuman nama saya. Tetapi nanti kalau ada yang datang memberi tahu, jawaban saya tetap sama menolak atau tidak bersedia,” tegasnya.

Sikap Kecewa

Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati itu mengaku kecewa dengan sikap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang tidak memperhatikan saran dan pemikirannya menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) NU di Pesantren Al-Hikmah-2, Benda, Sirampog, Brebes 11-13 Juli lalu.

”Ya tetapi mau diapakan lagi wong pengurus cabangnya sudah seperti itu. Tidak ada lagi idealisme di NU, pikiranya pragmatis, kepentingan sesaat dan yang pasti berkaitan syahwat politik,” tegasnya.

Menjelang konferwil, Mbah Sahal menyampaikan pemikirannya di koran agar cabang-cabang memilih ketua yang bersih dari tarik-menarik kepentingan politik praktis, tawadhuk kepada kiai dan syahwat politiknya tidak terlalu besar.

Namun pernyataan itu tidak mendapat perhatian peserta konferwil. Bahkan muncul selebaran dengan kop ”Forum Nahdliyin Jawa Tengah” yang menilai Mbah Sahal melakukan politisasi media.

Kiai Sahal juga kecewa mendengar di tengah-tengah pelaksaan konferwil terjadi money politics (politik uang). ”Saya sudah menyampaikan peringatan jauh-jauh hari sebelum konferensi berlangsung akan adanya money politics ini.”

Dia minta para kiai terutama di jajaran Syuriyah untuk melakukan tabayun kepada cabang-cabang yang diduga menerima riswah (suap-Red) untuk memuluskan calon ketua yang didukungnya. ”Lakukan tabayun yang berlaku di lingkungan NU,” katanya.
Terpisah, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Jateng KH Zaim Ahmad dan Katib Syuriyah PCNU Klaten KH Jazuli A Kasman mendukung pernyataan Rais Aam PBNU.

”Lakukan tabayun sesegera mungkin. Kami heran kok cabang-cabang tidak mendengarkan tausiyah Rais Aam,” kata Gus Jazuli, menantu Mbah Liem Klaten itu.
Menurut Gus Jazuli, apabila Rais Aam PBNU kecewa terhadap hasil Konferwil NU Jateng, bisa saja Kiai Sahal tidak menandatangani SK pengesahan. Jika itu terjadi akan menjadi masalah serius. Tradisi di NU, menurutnya, surat-surat penting selalu ditandatangi Rais Aam dan Katib Aam PBNU dengan Ketua Umum dan Sekjen PBNU.

Sementara itu mantan Ketua PWNU Jateng Drs H Achmad mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan apakah tetap masuk struktur kepengurusan bersama Adnan atau tidak. Mantan Wagub Jateng itu dalam PWNU Periode 2008-2013 masuk di jajaran Mustasyar. ”Kami akan meminta saran dan pendapat Kiai Sahal dulu,” katanya. (Suara Merdeka, 17 Juli 2008).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: