Elit NU, Berhentilah ’Menjual NU’

Tidak dapat dipungkiri, sejak Gus Dur (GD) mampu menembus tembok RI-1 atau menjadi presiden, di dalam tubuh NU mulai didapati banyak wajah-wajah ‘aneh’ bermunculan. Bahkan, belakangan tidak sulit dipetakan siapa saja ‘makhluk-makhluk’ yang sebenarnya mengerumuni NU. Siapa saja yang sebenarnya layak dijuluki ‘pejuang’, sampai siapa saja yang hanya patut disebut ‘penjual’ NU, sekarang ini jelas sekali. Dengan kata lain, beragam ‘wajah’ dan macam-macam kepentingan itulah yang kini menghiasi NU: ada yang sekedar ‘NU’ (baca; Nunut Urip) beneran sampai menjadikan NU sebagai gerbong mencari kekuasaan. Maka, berkasihanlah dengan NU…!

Sedang bagi orang di luar NU, sebagai ormas terbesar pertama dengan lebih 40 juta warga, NU selalu dianggap menjadi ‘pasar menjanjikan’ untuk diperdagangkan bagi lolosnya seorang kandidat tertentu dalam Pilkada; entah itu Pilgub ataupun Pemilihan Bupati (atau untuk mendampingi Capres sekalipun). Belum lagi adanya anggapan kalau NU relatif mudah dipolitisir (untuk tidak mengatakan dibohongi), karena perlawanannya tidak akan pernah keras. Tak heran kalau di beberapa tempat belakangan ini orang selalu melirik kader NU sekedar untuk ‘dipasangkan’ guna meraih kemenangan di pentas Pilkada dan/atau Pemilu bagi kelompoknya, meskipun secara nyata yang berpasangan dengan calon dari NU selalu keok. Maka risaulah kepada NU …!

Kasihan dan risau, itulah dua kata yang hanya bisa kita ucapkan. Tampilnya GD (sebagai simbol NU) di puncak kekuasaan saat itu, harus dibayar mahal dengan ‘rusak’nya mental kader-kader NU yang tidak siap dengan perubahan yang terjadi. Kader-kader yang biasa dengan kesusahan ekonomi-politik sehingga benar-benar serius dalam berkhidmat di jam’iyyah, lalu berubah lantaran akrab dengan kemudahan-kemudahan mengakses kekayaan di sekitar ‘kekuasaan’ yang ada, bahkan tanpa manajemen dan canggih sebagaimana politisi beneran. Setelah merasakan ‘enaknya’ mengakses kemudahan-kemudahan tersebut, mereka lupa akan tugas dan tanggungjawabnya memelihara warga yang hingga kini terus bergelut dengan kemiskinan dan keterbelakangan.

Tidak hanya itu, menduduki jabatan di struktur NU yang dulu identik dengan perdebatan tentang program pemberdayaan warga NU, kini berubah menjadi impian-impian politik kekuasaan: menjadi bupati, gubernur, walikota atau wakilnya sekalipun. Bayangan akan besarnya tanggung jawab mengelola jam’iyyah NU yang penuh dengan kemiskinan dan keterbelakangan ini, lalu berganti dengan impian ‘besarnya massa’ yang bisa ‘diperdagangkan’ untuk meraih kekuasaan individu dan/atau kelompok. Tak heran kalau kemudian jabatan struktural di NU kini menjadi primadona dan ajang perebutan yang penuh dengan politik uang (money politics) layaknya pemilu presiden. Akibatnya, setelah memimpin NU, dengan cara apa pun mereka akan mempertahankan jabatannya sampai mendapatkan jabatan yang lebih dari sekedar di NU.

Demikian juga soal ‘tambang kekayaan’ (baca; manfaat ekonomis) di dunia politik praktis. Kekuasaan yang identik dengan kemudahan mengakses ekonomi (kekayaan), kian memperkuat impian elit di NU untuk tetap ‘berpolitik-ekonomi’ melalui NU, untuk kepentingan elit semata. Tidak cukup satu periode di kepengurusan NU, mereka akan selalu mempertahankan, bahkan terus mencalonkan diri di kepengurusan mendatang sampai ‘modal politik-ekonominya’ kembali, atau justeru untuk meraup keuntungan yang lebih besar lagi. Contoh di sini adalah terpilihnya kembali M. Adnan di Jateng.

Tidak cukup puas di NU, dengan bermodalkan massa NU, para elit itu juga akan berebut kekuasaan yang lebih besar. Bahkan demi akumulasi modal ekonomi-politiknya, tidak segan-segan para ‘penjual NU’ ini dengan transaksi-transaksi tertentu akan memperdagangkan kader-kadernya di kancah politik lokal maupun nasional. Masalahnya ini dilakukan bukan demi meningkatkan posisi tawar NU, tapi jelas-jelas sebagai sikap ‘berdagang’ untuk kepentingan politik-kekuasaan individu dan kelompok mereka. Lihat saja di banyak even Pilkada (Gubernur maupun Bupati). ”Kalau bisa ‘memasangkan kader’ di semua calon, kenapa mesti hanya satu?” Itulah kira-kira ‘ambisi gila’ yang kini menyelimuti elit di NU. Mereka tidak lagi mempertimbangkan bagaimana kebingungan warganya, tapi malah justeru bangga dengan benih-benih permusuhan dan konflik horsontal yang diakibatkan perpecahan antarelitnya. Kasihan sekali warga NU… dan masih mau menjadi NU!

Apapun kondisi NU saat ini, yang jelas, sebelum berlanjut ke arah situasi yang lebih parah lagi, warga NU harus adzan keras-keras agar para elit NU saat ini menyudahi tabiat buruknya yang suka mengatasnamakan NU untuk dijadikan modal ‘dagangan’ ke mana-mana, di dunia politik praktis. Biarkan umat NU hidup dalam suasana kedamaian, mandiri mengelola dirinya dan bersama-sama merembug bagaimana NU bisa menjadi wadah tradisi dan payung berlindung jika ada kelompok-kelompok yang menghendaki bangsa ini mengingkari tradisinya sendiri untuk ikut pada kebiasaan orang lain yang tidak ia kenali. “Wahai elit, berhentilah menjual NU!…”

Kalau sudah tidak kuat lagi dengan syahwat politik yang menggelinjang, maka bentuklah atau terjunlah ke partai politik saja biar NU sebagai jam’yah bisa diselamatkan, dan syahwat yang menggelinjang itu bisa disalurkan dengan beretika. (a’wan majelis para masyayyikh, gunung Gandul).

1 Comment »

  1. 1
    orang NU Says:

    sudahlah, terlalu lelah mikirkan NU, bubarkan saja, toh semakin tidak berguna..memangnya, dengan adanya NU, rakyat bawah (yang NU) bisa denan mudah cari makan?


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: