Syaifullah Yusuf, al-Amin Nasution dan Politisi Kutu Loncat dari NU

Orang berpolitik tidaklah dilarang, tetapi malah masuk ke ruang yang memungkinkan orang bisa berkiprah untuk andil mengubah kondisi bangsa. Tetapi kalau praktik itu tidak dibarengi dengan etika, yang terjadi hanyalah “politisi yang mengeksploitasi” masyarakat, yang mengandalkan lobi-lobi dengan basis uang sebagai amunisi mencari dukungan: malah membebani bangsa. Kalau dia berasal dari basis NU, maka politisi jenis itu hanya akan merugikan nama NU.

Untuk menjadi politisi beretika: pertama, dia harus memiliki visi yang akan diperjuangkan untuk andil mengubah bangsa; kedua, dia harus melihat partai yang akan dimasuki atau partai yang dibuat, atau partai yang akan dijadikan kendaraan untuk berpolitik; ketiga, setelah melihat partai yang akan dimasuki, atau partai yang akan dibuat bersama-sama dengan orang lain, apakah visi partai itu cocok apakah tidak dengan visi yang akan diperjuangkan. Kesimpulan dari semua itu, baru politisi itu bisa masuk ke partai tertentu atau ikut dalam basis dukungan partai itu karena sesuai dengan visi yang akan diperjuangkan.

Sebaliknya, politisi yang tidak beretika, salah satunya dicerminkan oleh praktik dan sikap gonta-ganti partai di mana partai yang dimasuki itu memiliki visi yang berbeda jauh dengan partai satu dengan lainnya, tetapi semuanya juga dimasuki. Misalnya, Golkar, PKNU, PKB, PDIP, dan PPP itu berbeda. PKB dan PDIP mungkin agak sedikit berdekatan karena berasas kebangsaan. Tetapi PPP dan PDIP itu jauh berbeda, karena PPP berbasiskan non-kebangsaan, tetapi bertujuan “menegakkan syariat”. PKNU dan PKB juga berbeda, karena PKNU ingin menegakkan syariat Islam Aswaja, tetapi PKB berpaham terbuka.

Syaifullah Yusuf dan al-Amin Nasution termasuk contoh politisi kutu loncat ini. Syaifullah pernah bergabung dengan PDIP, tetapi kemudian bergabung dengan PKB (dan ini masih dekat dari sisi ideologi), pernah mencoba ke PPP (sudah beda jauh), lalu pernah mencoba ke PKNU (juga beda jauh), dan sekarang nyalon Pilgub/pilwagub dicalonkan PAN-Demokrat dan partai-partai kecil. Al-Amin Nasution, malah disebut Suara Merdeka (13 Juli 2008), sebagai politisi kutu loncat: dulu dia ada di Golkar, kemudian PKB dan terakhir di PPP. Ya, namanya kutu loncat, tidak penting visi, asal di situ ada yang ingin dicapai, ya dimasuki. Politisi-politisi jenis ini, kalau ia berasal dari basis Nahdliyin, hanya membuat citra Nahdliyin sebagai politisi tidak bermoral, bisanya hanya jualan. Tetapi harus diingat, sepandai-pandai tupai locat, akan jatuh juga. (a’wan majlis para masysyikh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: