NU sebagai tempat Magang Menjadi Politisi Dadakan

Hubungan NU dengan profesi politisi bisa ditempatkan dalam AD NU pasal 45, yaitu:

Ayat 1 disebutkan: “Jabatan pengurus harian NU, lembaga, lajnah, dan badan otonom, tidak dapat dirangkap dengan jabatan pengurus harian pada semua tingkat kepengurusan yang lain, baik dalam organisasi NU maumpun dalam perangkatnya.”

Sedangkan ayat 2 disebutkan: “Jabatan pengurus harian NU, lembaga, lajnah, dan badan otonom pada semua tingkat kepengurusan tidak dapat dirangkap dengan jabatan pengurus harian partai politik atau organisasi yang berafiliasi kepadanya.”

Di ayat 3 disebutkan: “Jika pengurus Nahdlatul Ulama mencalonkan diri atau dicalonkan untuk mendapatkan jabatan politik maka yang bersangkutan harus non-aktif sementara hingga penetapan jabatan politik tersebut dinyatakan final, dan apabila terpilih, maka yang bersangkutan dapat mengundurkan diri, atau diberhentikan dengan hormat.”

Pasal di atas memberi ruang yang sangat lebar terhadap para pengurus NU untuk maju di bidang jabatan-jabatan politik-publik (seperti DPD, Pilgub/pilwagub, DPR, DPRD, Pilbub/pilwabup, rangkap jabatan di organisasi yang lain, dan sejenisnya), tanpa berasal-masuk ke partai politik, karena beberapa alasan:

Pertama, yang disebutkan oleh pasal 45 ayat 2 hanya rangkap jabatan dalam partai politik dan perangkatnya dengan jabatan-jabatan di lingkungan NU dan perangkatnya. Tidak disebutkan larangan rangkap jabatan dengan organisasi lain, ormas lain, dan sejenisnya. Contoh rangkap jabatan sejenis ini adalah para pengurus NU yang merangkap dalam kepengurusan Ormas MUI pusat, seakan-akan mereka sanggup mengemban semua jabatan di organisasi itu. Ini membuat NU tidak diurus dengan konsen yang cermat dan pantas. Sebenarnya, bisa saja kalau ingin ada tokoh NU maju di MUI, harusnya tokoh NU yang tidak menjadi pengurus NU, atau menjadi pengurus tetapi kemudian mau mengundurkan diri. Lha, sekarang ini, semuanya dirangkap sepanjang jabatan di NU-MUI itu selesai.

Kedua, dibolehkannya pengurus NU meraih jabatan politik seperti DPD, Pilgub/pilwagub, DPR, DPRD, Pilbub/pilwabup, dan sejenisnya, hanya dengan mekanisme “harus berhenti sementara”. Lalu di mana-mana NU daerah menjadi tempat magang sebagai politisi karbitan, politisi dadakan, dan politisi sak karepe dewe, tanpa proses mau terlibat di dalam partai politik tertentu. Maunya enak-enak langsung jadi, membuat manja dan tidak memiliki keterkaitan dengan masyarakat. Bahaya ini sebenarnya sudah dirasakan oleh banyak orang, dan contohnya di Jawa Timur ketika ketua NU di situ harus meneken kontrak social untuk tidak maju dalam politik praktis. Pada kenyataannya, ketua NU daerah Jatim maju juga dalam Pilgub/pilwagub. Ini akibat aturannya memang menjadikan NU memungkinkan diplintir dan luas sebagai tempat magang menjadi politisi karbitan, karena tidak mau susah-susah menapaki sebagai politisi dan terlibat dalam partai politik. Ini menjadikan pembelajaran untuk menjadi politisi kutu loncat. Loncat sana-loncat sini asal ada peluang.

Ketiga, tidak ada sanksi ketika pasal ini yang memang memberi kelonggaran luar biasa itu dilanggar oleh pengurus NU.

Pasal ini perlu dirombak dengan tegas, tidak boleh adanya rangkap jabatan pengurus NU bukan hanya dengan partai politik, tetapi dengan Ormas lain, seperti MUI (karena MUI sudah menjadi Ormas); perlu juga ketegasan dalam soal hubungannya dengan jabatan politik, karena kalau ini tidak tegas dan mekanismenya hanya non-aktif: NU akan terus menjadi tempat magang sebagai politisi dadakan, bukan politisi beneran; NU tidak memberikan pelajaran politik, karena untuk terlibat dalam agregasi kekuasaan, orang harus terlibat dalam partai politik; dan NU hanya akan sibuk mengurus Pilkada. Lalu, kapan mengurus umat bawah pak? (a’wan majlis para masyayikh).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: