NU dan KH. Hasyim Muzadi

Dua periode NU struktural sekarang ini dewan tanfidz dipimpin oleh KH. Hasyim Muzadi, yang mantan alumni Gontor. Banyak orang bilang di pesantren dan obrolan-obrolan di lingkungan NU bawah, bahwa KH. Hasyim Muzadi ini dulu adalah kadernya Gus Dur, yang memiliki wawasan kebangsaan baik, punya jiwa pemberdayaan terhadap warga NU, dan punya kepemimpinan yang bisa menggerakkan Nahdliyin untuk mandiri dan berdaya. Banyak orang juga bilang KH. Hasyim Muzadi tidak akan jadi ketua PBNU kalau tidak dibesarkan Gus Dur. Tapi sekarang tokoh ini di obrolan-obrolan Nahdliyin bawah, dikenal sebagai tokoh asal beda dengan Gus Dur, termasuk ketika membela FPI.

Orang boleh berharap banyak terhadap sosok KH. Hasyim Muzadi ini untuk mengonsolidasikan Nahdliyin agar berdaya, mandiri, dan besar. Tetapi banyak juga yang mengeluh dan meratap atas nasib Nahdliyin di bawah kepemimpinannya, karena:

Pertama, dalam kepemimpinannyalah prestasi luar biasa muncul, karena peserta muktamirin yang pernah datang di Muktamar Boyolali dan memilihnya lagi, banyak yang datang dengan mobil-mobil mewah. Perubahan ini pernah dilaporkan oleh harian Kompas saat Muktamar di Boyolali dulu. Saat yang sama masyarakat NU banyak yang miskin.

Kedua, pada masa kepemimpinan tokoh ini, di NU mulai berlaku praktik-praktik di bawah seperti keikhlasan untuk mengurus NU nyaris hilang, karena rebutan jabatan di tingkat PW dan PC sudah memakai uang.

Ketiga, tokoh ini ikut mempelopori diri masuk ke politik praktis dengan menjadi cawapresnya Megawati secara terang-terangan, dan tidak mau mundur dari jabatannya sebagai ketua dewan tanfidz, dan ternyata kemudian tidak dikehendaki oleh Tuhan, akhirnya keok di Pilpres. Setelah keok dengan enaknya kembali lagi ke PBNU, dan ini menunjukkan kedudukan sebagai ketua PBNU, diperlakukan sebagai barang murahan, bisa diperlakukan seenaknya. Sebenarnya masuk politik praktis baik saja, kalau berasal dari partai politik dan mau mundur dari jabatan di NU, tetapi yang terjadi justru NU disandera: tidak mau mundur, tetapi mencalonkan diri layaknya seperti orang partai.

Keempat, budaya luar biasa yang kemudian muncul dari perilaku tokoh ini adalah diikuti kader-kadernya, seperti di Jawa Tengah (M. Adnan) dan Jawa Timur (Maschan Moesa) untuk maju di pilkada, tanpa mau mundur dari ketua tanfidz. Di Jateng, Adnan keok, dan di Jawa Timur ketika tulisan ini dibuat, masih dalam proses menuju pilihan langsung pilgub. Ketua Ansor dan ketua muslimat, juga dengan nyaman rangkap jabatan di mana-mana, pernah jadi menteri, dan sekarang mencalonkan di pilgub. Banyak obrolan menyebutkan: “Selamat, karena NU berhasil dikentuti oleh sebagian elitnya untuk mengejar jabatan-jabatan kekusaan yang menguntungkan klan-klan kecil mereka sendiri dan menghancurkam kemandirian NU dan khittah NU”. Ini menjadikan jabatan-jabatan di NU seperti magang untuk pelatihan menjadi politisi.

Kelima, tokoh ini berhasil mendekatkan NU dengan FPI dan kelompok Islam-Islam radikal, dan yang terpenting juga menjadikan kelompok seperti PKS, HTI, FPI bebas masuk kantong-kantong NU dengan nyaman, tinggal menunggu waktunya kelompok-kelompok ini menggoyang basis-basis NU dan terjadi konversi besar-besaran dari NU ke Islam-Islam radikal ini. Upaya tokoh ini dalam ICIS yang mengundang intelektual muslim dari seluruh dunia, tidak bermanfaat bagi pembendungan kelompok-kelompok Islam radikal di kantong-kantong NU, karena perhelatan ICIS itu hanya proyek dan berbasis elit, tak dikenal warga bawah NU, dan tidak bermanfaat untuk membendung laju PKS, HTI, dan FPI di kantong-kantong NU

Bagi sebagian orang NU hal-hal di atas adalah prestasi, tetapi bagi yang lain, dan bagi NU ke depan ini adalah ancaman luar biasa karena 2 hal:

Pertama, untuk tegaknya NKRI dan Pancasila yang menurut KH. Ahmad Shidiq: “ Hasil dari kesepakatan yang syah itu, yaitu NKRI adalah syah dilihat dari pandangan Islam, sehingga harus dipertahankan dan dilestarikan bentuknya.” KH. Ahmad Shidiq juga menambahkan: ””Jelaslah bahwa negara RI adalah negara nasional yang wilayahnya dihuni oleh penduduk yang sebagian terbesar memeluk agama Islam. Dengan demikian Republik Indonesia adalah bentuk upaya final seluruh nasion teristimewa kaum muslimin unuk mendirikan negara di wilyah nusantara.” Lalu, adanya kenyamanan kelompok seperti HTI yang ingin menegakkan khilafah, PKS yang ingin menegakkan negara Islam, dan FPI yang mencampurbaurkan antara jenis premanisme dengan dakwah agama, masuk ke jantung-jantung NU telah dengan jelas mendangkalkan Pancasila dan NKRI yang dijunjung tinggi NU. Dukungan ketua NU kepada FPI dalam kasus Monas juga bagian dari perilaku seperti ini.

Kedua, mengancam NU ke depan, karena HTI yang ingin menegakkan khilafah, PKS yang ingin menegakkan dasar-dasar negara Islam, dan FPI yang mencampurbaurkan antara jenis premanisme dengan dakwah agama berbeda dengan NU yang mengakui Pancasila dan NKRI, dan tentu akan menggoyang basis-basis NU ke depan. Jadi, ini sebuah ancaman kepada NU, yang mirisnya mereka nyaman masuk ke kantong-kantong NU, karena NU di bawah kepemimpinan tokoh KH. Hasyim Muzadi justru membela mati-matian terhadap FPI (terutama dalam kasus Monas) dan tidak melakukan pembendungan secara jelas dan serius terhadap kelompok Islam radikal (a’wan majlis masyayikh).

2 Comments »

  1. 1

    waduh…ternyata zaman sekarang ini banyak “inteletual muslim” kita yang dibelajar agama dinegeri sekuler, dan tentunya biaya + akomodasi ditanggung pihak negara sekuler. Setelah selesai dan meraih gelar Doktor,mereka menjadi kader-kader liberalis yang siap mati untuk mempertahankan paham-paham leberal,sekuler. Dengan dukungan dana dari negara “donor” mereka rela menjadi kacung-kacung kaum sekuler.Naudzubillah

    • 2
      nukhittah26 Says:

      betul, kita harus kritik mereka yang dididik dan menjadi agen asing, tetapi justru mbahnya agen asing itu Arab Saudi, yang menjadi kaki tangannya Amerika. Kita masyarakat Indonesia, harus sadar, bahwa kita ini Indonesia, bukan Arab, kalau mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai arab, dan menjadi agen asing Arab, atau negeri-negeri timur tengah, sama-sama mereka itu agen asing, yang harus ditolak. Kita adalah Indonesia yang lahir, dari bumi Indonesia. Sebagai santri, pertama-tama kami juga seorang Indonesia.


RSS Feed for this entry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: